Careds | Centre for Adaptation and Resilience Environmental Design Studies https://careds.unpar.ac.id Parahyangan Catholic University Mon, 02 Mar 2020 04:25:48 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.2 https://careds.unpar.ac.id/wp-content/uploads/2021/11/Favicon-Website-Unpar.png Careds | Centre for Adaptation and Resilience Environmental Design Studies https://careds.unpar.ac.id 32 32 Peran Pusat Studi Kembangkan Ilmu Pengetahuan https://careds.unpar.ac.id/peran-pusat-studi-kembangkan-ilmu-pengetahuan/ Mon, 02 Mar 2020 04:25:48 +0000 http://unpar.ac.id/?p=24011 Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) memiliki keinginan yang kuat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Sesuai dengan visi dan misinya sebagai komunitas akademik humanum, akademisi Unpar mengembangkan ilmu dalam mengangkat potensi lokal untuk meningkatkan peradaban manusia. Tentunya, pengembangan keilmuan itu tidak bisa lepas dari aktivitas riset dan pengabdian kepada masyarakat dalam berbagai bidang ilmu dan keahlian.

Untuk mendukung visi dan misi tersebut, Unpar menghadirkan berbagai Pusat Studi di tengah komunitas akademik Unpar. Secara garis besar, pusat studi di Unpar terbagi ke dalam dua kategori, yaitu Pusat Studi Multidisiplin yang terdiri dari lima pusat studi dalam skala universitas, serta Pusat Studi Monodisiplin yang dikelola oleh masing-masing fakultas dan program studi, juga mengarahkan riset dan aktivitas akademik lain dalam koridor ilmu yang spesifik.

Pusat Studi sendiri memiliki fungsi sebagai fasilitator kegiatan penelitian baik dalam satu bidang ilmu maupun lintas bidang penelitian. Di tengah masyarakat, pusat studi memberikan beragam bentuk layanan. Misalnya, aktivitas pengabdian masyarakat lewat pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, serta pembinaan dan konsultasi bagi lembaga dan instansi di luar Unpar.

Pengelolaan pusat studi di Unpar, baik monodisiplin maupun multidisiplin, dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM). Untuk itu, Dr. Henky Muljana selaku Kepala LPPM Unpar dalam wawancara dengan Tim Publikasi menyoroti pentingnya regulasi dalam pengelolaan pusat studi, mulai dari pendirian hingga rencana program dan arah penelitian. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian yang dilakukan oleh masing-masing pusat studi.

Selengkapnya dalam Dr. Henky Muljana: Pusat Studi Sebagai Sentral Pengembangan Keilmuan Unpar

Saat ini, Unpar memiliki lima pusat studi multidisiplin, yaitu Centre of Excellence for Small and Medium Industries Development (CoE SMED), Centre of Excellence for Urban Infrastructure Development (CUID), Centre for Adaptation and Resilience Environmental Design studies (CAREDs), Center for Human Development and Social Justice (CHUDS), serta Pusat Studi Pancasila (PSP). Kehadiran pusat studi multidisiplin di Unpar bukan tanpa sebab. Pusat studi ini diharapkan dapat memberikan solusi bagi isu yang dihadapi masyarakat dari berbagai kacamata keilmuan. 

Contohnya adalah Pusat Studi Pancasila Unpar, yang pada tahun ini merayakan tiga tahun peresmiannya. PSP Unpar memahami penguatan Pancasila sebagai ideologi kebangsaan dalam keseharian masyarakat. Dimulai dari lingkungan akademik Unpar yang seringkali diibaratkan sebagai ‘Indonesia Kecil’ dengan keberagamannya, PSP Unpar menyebarkan semangat Pancasila melalui kajian, kegiatan intelektual, serta pemberdayaan masyarakat.

Selengkapnya dalam Pusat Studi Pancasila Unpar: Wadah Keilmuan Ideologi Bangsa

Sebagai aktivitas utamanya, pusat studi di Unpar perlu menyelenggarakan riset secara berkelanjutan. Hal ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya rencana pengembangan riset baik di tingkat universitas maupun secara nasional. Di sisi lain, masukan dari para akademisi yang secara giat melakukan riset dalam bidang ilmu yang dipakarinya menjadi modal penting bagi pengembangan kegiatan penelitian dan pengabdian masyarakat baik di lingkup institusional hingga negara.

Pada kesempatan seminar memperingati Dies Natalis ke-65 Unpar, dua orang akademisi Unpar yaitu Prof. Judy Retti B. Witono (Guru Besar Teknik Kimia Unpar) dan Yulius Purwadi Hermawan, Ph.D. (Dosen Hubungan Internasional Unpar) memberikan pandangan mereka mengenai pengembangan riset di Indonesia. Prof. Judy menyoroti pentingnya riset sebagai langkah penting memajukan keadaban manusia. Di sisi lain, Yulius Purwadi menegaskan pentingnya kolaborasi global dalam meningkatkan kualitas riset, khususnya di bidang kajian ilmu sosial.

Selengkapnya dalam Peran Penting Perguruan Tinggi dalam Riset

Pengembangan riset melalui pusat studi merupakan bagian dari keinginan Unpar untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Pusat studi di Unpar diharapkan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan yang ada saat ini, sembari memberi solusi bagi isu-isu dan kebutuhan nyata di tengah masyarakat kita. (DAN)

]]>
Mengulas Kesiapan Menghadapi Bencana https://careds.unpar.ac.id/mengulas-kesiapan-menghadapi-bencana/ Wed, 09 Jan 2019 03:45:54 +0000 http://unpar.ac.id/?p=19727 Secara geografis, Indonesia terletak di kawasan dengan lapisan lempeng tektonik yang rawan bencana. Bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak dapat disamaratakan, baik dari segi kejadian maupun penanganan. Hal ini karena pada saat berupaya menangani suatu bencana alam, yang kita tolong adalah masyarakatnya. Masyarakat itulah yang membedakan dampak suatu bencana dan akan memengaruhi bagaimana kita menangani sebuah bencana.

Melihat kebutuhan masyarakat terkait kesiapan menghadapi bencana alam, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengadakan seminar nasional yang membahas tentang penanganan bencana berjudul Seminar Nasional: Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana, pada Jumat (16/11/2018) di Mgr. Geise Lecture Theatre FISIP Unpar.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Centre for Adaptation & Resilience Environmental Design Studies (CAREDs) yang berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpar. Acara ini diadakan atas kerja sama dengan komunitas akademik seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat, Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) serta disponsori oleh Daikin. Adapun penyelenggaraan acara bertepatan dengan ulang tahun kedua CAREDs Unpar.

Menyikapi bencana secara kontekstual

Wakil Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Wisnu Widjaja membuka sesi pertama diskusi melalui penjelasan tentang bagaimana sebaiknya kita melihat bencana sebagai sesuatu yang kontekstual. “Dampak dari bencana itu besar sekali! Lihat saja kemarin di Nusa Tenggara Barat. Karena gempa, (sektor) ekonomi yang dulunya tumbuh 2% akhirnya turun jadi minus.”

Wisnu menambahkan, hal tersebut berbeda dengan daerah seperti Yogyakarta yang memiliki kemampuan lebih untuk memulihkan diri sehingga ekonomi mereka tidak lantas hancur meskipun butuh waktu untuk membangun ulang.

Wisnu menyimpulkan, dengan mengarahkan semangat gotong royong masyarakat juga melalui pendidikan teknis tentang penanganan bencana, kita dapat mengurangi korban bencana secara signifikan.

Andreas Hapsoro melanjutkan sesi seminar dengan memaparkan permasalahan konstruksi. Sebagai Disaster Response Operations Specialist, ia mengkaji tentang bagaimana masyarakat sulit pulih dari bencana. Pemulihan daerah berlangsung dalam proses dan tidak bisa instan. Sama seperti masyarakat dapat menjadi pendorong utama penanggulangan bencana, masyarakat pula dapat menghalangi proses pemulihan pascabencana.

Andreas juga mengingatkan para mahasiswa arsitektur yang ingin membangun struktur atau konstruksi untuk memperhatikan konteks daerah seperti letak geografis dan budaya.

Andreas menutup sesi diskusi dengan memberi penjelasan tentang bagaimana konstruksi harus memperhatikan dampak lingkungan. Sederhananya, dalam membangun, harus ada pemanfaatan tanaman untuk memperkuat tanah.

Bukan gempa, melainkan bangunannya

Prof. Arief Sabarudin melanjutkan sesi seminar dengan membahas tentang pemanfaatan rancangan rumah yang efisien dan pentingnya konstruksi yang sederhana, tetapi lebih kuat. Menurut Prof. Arief, solusi untuk menurunkan korban jiwa dan luka-luka adalah dengan mendirikan bangunan yang lebih kuat dan lebih baik secara konstruksinya. Atau bila tidak mampu karena keterbatasan dana dan lainnya, lebih baik disediakan tempat landai seperti lapangan dan lahan kosong bebas dari bangunan agar masyarakat dapat mengevakuasi diri bila ada gempa.

Prof. Arief yang merupakan perwakilan dari IAI Jawa Barat juga mengemukakan, ada kebutuhan untuk menyederhanakan struktur rumah agar dapat dibangun dengan cepat dan kuat. Dalam menjawab tantangan tersebut, ia pernah mencoba mengembangan konsep “rumah tumbuh”, yaitu dengan membuat rumah dari komponen-komponen yang sederhana agar masyarakat di daerah bencana dapat merakit sendiri dengan lebih cepat.

“Percobaan kami di Lombok, rata-rata mereka menyelesaikan rakitan (rumah) itu 5 jam saja,” jelas Prof. Arief.

Rumah tumbuh tersebut selain cepat dibangun, juga mudah untuk “ditumbuhkan”.

Tim CAREDs Unpar menjadi presentator terakhir yang menutup sesi seminar. Dr. Pele Wijaya beserta Yenny G mempresentasikan tentang CAREDs serta pentingnya penanganan bencana yang efektif melalui sinergi BPNB dan masyarakat. Dr. Pele memberikan pemaparan mengenai berbagai situasi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini.

Shelter itu ada banyak, bisa dari tenda dan bahkan bangunan, tergantung pemanfaatannya, yang penting itu efisiensi,” Dr. Pele menyimpulkan.

Sumber: Kompas Griya Ilmu (Rabu, 9 Januari 2019)

]]>
Penandatanganan Nota Kesepahaman Unpar dan Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat https://careds.unpar.ac.id/penandatanganan-nota-kesepahaman-unpar-dan-pemerintah-kabupaten-tulang-bawang-barat/ Tue, 27 Nov 2018 01:00:49 +0000 http://unpar.ac.id/?p=19349 Pada Rabu (21/11/18) di Gedung Rektorat Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), telah dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Unpar dan pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung. Dalam kesempatan ini, MoU ditandatangani oleh Rektor Unpar Mangadar Situmorang Ph.D dan Bupati Kabupaten Tulang Bawang Barat Umar Ahmad S.P.

Selain dihadiri oleh jajaran sekretariat pemerintahan Kabupaten Tulang Bawang Barat, acara penandatanganan MoU ini juga dihadiri oleh Dr. Budi Husodo Bisowarno (Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerjasama), Dr. Orpha Jane (Wakil Rektor Bidang Organisasi dan Sumber Daya), Dr. Yohanes Basuki Dwisusanto (Dekan Fakultas Teknik Unpar), serta Dr. Y. Karyadi Kusliansjah (Kepala Pusat Studi Adaptasi dan Resiliensi Desain Lingkungan).

Mangadar Situmorang memberikan sambutan hangat dan berharap dengan diadakannya kesepakatan antara pihak Unpar yang menaungi Pusat Studi Adaptasi dan Resiliensi Desain Lingkungan (CAREDs), kerja sama ini dapat berlangsung lama dan terlaksana dengan baik. “Ini adalah kesempatan untuk kami para dosen untuk belajar, bukan hanya mengabdi saja tetapi ini menjadi pelajaran untuk kami dan para mahasiswa,” tuturnya.

Bupati Kabupaten Tulang Bawang Barat Umar Ahmad S.P mengajak Unpar sebagai institusi untuk mengabdi bersama kepada bangsa, dikarenakan sumber daya manusia yang dimiliki Unpar cukup banyak. Selain itu, dengan adanya bantuan dari Unpar diharapkan bisa membantu pembangunan dan pengembangan Kabupaten Tulang Bawang Barat menjadi lebih baik lagi.

Acara ditutup dengan pemberian cinderamata dari pihak Unpar. Diharapkan kerja sama ini dapat terjalin serta membuahkan hasil yang baik bagi kedua pihak.

]]>
Seminar Nasional: Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana https://careds.unpar.ac.id/seminar-nasional-tantangan-dan-peluang-shelter-evakuasi-bencana/ Fri, 23 Nov 2018 01:11:14 +0000 http://unpar.ac.id/?p=19314 Indonesia adalah negara yang terletak secara geografis di kawasan yang rawan dengan bencana karena terletak di beberapa lapisan lempeng tektonik. Melihat kebutuhan masyarakat terkait kesiapan menghadapi bencana alam, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mengadakan seminar nasional yang membahas tentang penanganan bencana, pada Jumat (16/11/2018) di Mgr. Geise Lecture Theatre FISIP Unpar.

Seminar tersebut diselenggarakan oleh Centre for Adaptation & Resilience Environmental Design Studies (CAREDs) yang berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unpar. Acara ini diadakan atas kerja sama dengan komunitas akademik seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat, Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) serta disponsori oleh Daikin. Adapun penyelenggaraan acara bertepatan dengan ulang tahun kedua CAREDs Unpar.

Menyikapi bencana secara kontekstual

Bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak dapat disama-ratakan baik dari segi kejadian maupun penanganan. Hal ini dikarenakan pada saat kita berupaya menangani suatu bencana alam, yang kita tolong adalah masyarakatnya. Masyarakat itulah yang membedakan dampak suatu bencana dan akan memengaruhi bagaimana kita menangani sebuah bencana.

Wisnu Widjaja selaku Wakil Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) membuka sesi pertama diskusi melalui penjelasan tentang bagaimana sebaiknya kita melihat bencana sebagai sesuatu yang kontekstual. “Dampak dari bencana itu besar sekali! Lihat saja kemarin di Nusa Tenggara Barat. Karena gempa, (sektor) ekonomi yang dulunya tumbuh 2% akhirnya turun jadi minus,” ungkap Wisnu. Ia menambahkan, hal tersebut berbeda dengan daerah seperti Yogyakarta yang memiliki kemampuan lebih untuk memulihkan diri sehingga ekonomi mereka tidak lantas hancur meskipun butuh waktu untuk membangun ulang.

Wisnu mengungkapkan sesuatu yang menarik, “Sebenarnya masyarakat kita adalah aset terbesar. Dengan semangat gotong royong dan aktivisme maka kita sebenarnya sangat mudah untuk membantu. Pemerintah mengurus hal-hal yang besar, badan usaha swasta memberi bantuan semampu mereka seperti logistik. Lalu masyarakat dengan kerelaan mereka maju dan saling membantu,” terangnya. Ia kemudian memberikan contoh bencana gempa yang melanda Yogyakarta pada 2010 lalu. Bantuan makanan untuk 6000 orang pengungsi dengan mudah didapatkan melalui penyebaran informasi lewat media sosial Twitter. “Dari itu (Twitter) saja lalu ada pergerakan masyarakat saling bantu sana sini. Bisa lewat Lembaga Swadaya Masyarakat atau bahkan secara pribadi tergerak.” Ia menyimpulkan bahwa dengan mengarahkan semangat gotong-royong masyarakat juga melalui pendidikan teknis tentang penanganan bencana, kita dapat mengurangi korban bencana secara signifikan.

Andreas Hapsoro melanjutkan sesi seminar dengan memaparkan permasalahan konstruksi. Beliau sebagai Disaster Response Operations Specialist mengkaji tentang bagaimana masyarakat sulit pulih dari bencana. Pemulihan daerah berlangsung dalam proses dan tidak bisa instan. Sama seperti masyarakat dapat menjadi pendorong utama penanggulangan bencana, masyarakat pula dapat menghalangi proses pemulihan paska bencana. “Saya kasih contoh di Padang Pariangan. Mereka membangun rumah lagi itu maunya besar-besar tapi nggak mikir banyak tentang struktur yang kuat dan tahan gempa. Nah, kita ini berupaya membantu mereka untuk memperkuat bangunannya. Meskipun mereka memang lebih suka (segi) estetiknya daripada fungsionalnya tapi ini loh yang memang penting,” ungkapnya.

Beliau juga mengingatkan para mahasiswa arsitektur yang ingin membangun struktur atau konstruksi untuk memperhatikan konteks daerah seperti letak geografis dan budaya. “Seringkali dari rumah adat dan budaya, mereka juga udah ada awareness ke penanganan bencana, tapi karena sering dilupakan dan dianggap pusing maka kita lupakan. Padahal pengetahuan itu bisa sangat membantu,” terangnya. Andreas menutup sesi diskusi dengan memberi penjelasan tentang bagaimana konstruksi harus memperhatikan dampak lingkungan. Sederhananya, dalam membangun, harus ada pemanfaatan tanaman untuk memperkuat tanah.

Bukan gempa tapi bangunannya

Prof. Arief Sabarudin kemudian melanjutkan sesi seminar dengan membahas tentang pemanfaatan rancangan rumah yang efisien dan juga pentingnya konstruksi yang sederhana tetapi lebih kuat. “Kan kalau di daerah-daerah bencana itu (masyarakatnya) pada bikin rumah kadang sembarangan dan tidak peduli dengan konstruksi yang baik karena ingin cepat jadi. Ini berbahaya karena selama ini yang mematikan itu bukan gempa tapi orang tertindih bangunan yang runtuh.” Menurutnya, solusi untuk menurunkan korban jiwa dan luka-luka adalah dengan mendirikan bangunan yang lebih kuat dan lebih baik secara konstruksinya atau bila tidak mampu karena keterbatasan dana dan lainnya, maka lebih baik disediakan tempat landai seperti lapangan dan lahan kosong bebas dari bangunan agar masyarakat dapat mengevakuasi diri bila ada gempa.

Prof. Arief yang merupakan perwakilan dari IAI Jawa Barat juga mengemukakan bahwa ada kebutuhan untuk menyederhanakan struktur rumah agar dapat dibangun dengan cepat serta kuat. Dalam menjawab tantangan tersebut, ia pernah mencoba mengembangan konsep “Rumah Tumbuh” yaitu dengan membuat rumah dari komponen-komponen yang sederhana agar masyarakat di daerah bencana dapat merakit sendiri dengan lebih cepat. “Percobaan kami di Lombok, rata-rata mereka menyelesaikan rakitan (rumah) itu 5 jam saja,” jelasnya. Rumah tumbuh tersebut selain cepat dibangun juga mudah untuk “ditumbuhkan”. “Kalau nanti sudah mulai aman dan stabil, ya masyarakat bisa membeli kembali komponen rakitan dan membangun kembali rumah yang lebih besar,” pungkasnya.

Tim CAREDs Unpar menjadi presentator terakhir yang menutup sesi seminar. Dr. Pele Wijaya beserta Yenny G mempresentasikan tentang apa itu CAREDs serta pentingnya penanganan bencana yang efektif melalui sinergi BPNB dan masyarakat. Dr. Pele memberikan pemaparan mengenai berbagai situasi yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. “Shelter itu ada banyak, bisa dari tenda dan bahkan bangunan, tergantung pemanfaatannya, yang penting itu efisiensi,” beliau menyimpulkan.

]]>
CAREDs Adakan Seminar Nasional tentang Situasi Kebencanaan di Indonesia https://careds.unpar.ac.id/careds-adakan-seminar-nasional-dalam-menghadapi-situasi-kebencanaan-di-indonesia/ Wed, 21 Nov 2018 04:24:22 +0000 http://unpar.ac.id/?p=19300 Bertepatan dengan dua tahun diinisiasikannya Centre for Adaptation and Resilience Environmental Design Studies (CAREDs) pada Jumat (16/11/18), CAREDs menyelenggarakan seminar nasional di Ruang Mgr. Geise Lecture Theatre, Gedung 3 FISIP Unpar. CAREDs yang berada di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Katolik Parahyangan (LPPM Unpar) pada kesempatan ini bekerjasama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) mengadakan seminar nasional yang mengangkat tema “Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana dalam Menghadapi Situasi Kebencanaan di Indonesia”.

Seminar ini dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama meliputi presentasi tentang Konteks Kebencanaan di Indonesia dengan pembicara B. Wisnu Widjaja Deputy Chief of Prevention and Preparedness Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Andreas Hapsoro Disaster Response Operations Specialist HABITAT for Humanity Internasional – Asia Pacific. Setelah presentasi yang dimoderatori oleh Dr. Orpha Jane, sesi pertama dilanjutkan dengan presentasi dari DAIKIN yang menjadi sponsor pada seminar nasional CAREDs ini.

Selanjutnya, sesi kedua diisi dengan presentasi yang dimoderatori oleh Sylvia Fetri, M,SE,SH,NSi,Ak dengan tema Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana. Sejumlah pemateri antara lain Prof. Dr. Arief Sabaruddin dari Kepala Pusat Penelitian Perumahan dan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum dan Dr. Pele Widjaja dan Yenny Gunawan, ST, MA dari Pusat Studi Adaptasi dan Resiliensi Desain Lingkungan Binaan. Seminar Nasional ditutup dengan penjelasan dan tanya jawab Sayembara Desain.

Seminar nasional ini diadakan karena mengingat bencana saat ini cenderung meningkat dampaknya, maka dari itu bencana berskala besar dengan tingkat kerusakan yang tinggi membutuhkan penanganan khusus terutama dalam menyediakan hunian sementara yang layak untuk pengungsi.

]]>
Seminar Nasional “Tantangan dan Peluang Shelter Evakuasi Bencana Dalam Menghadapi Situasi Kebencanaan di Indonesia” https://careds.unpar.ac.id/seminar-nasional-tantangan-dan-peluang-shelter-evakuasi-bencana-dalam-menghadapi-situasi-kebencanaan-di-indonesia/ Fri, 09 Nov 2018 01:21:39 +0000 http://unpar.ac.id/?p=19168

]]>
Unpar Resmikan CAREDs https://careds.unpar.ac.id/unpar-resmikan-careds/ Tue, 16 May 2017 06:18:07 +0000 http://unpar.ac.id/?p=13160 Pada Selasa (16/5), Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) meresmikan Pusat Studi Adaptasi dan Resiliensi Desain Lingkungan atau lebih dikenal dengan nama CAREDs (Centre for Adaptation and Resilience Environmental Desain Studies) di Ruang Mgr. Geise Lecture Theatre, Gedung 3 FISIP Unpar.

Acara peresmian ini dihadiri oleh Rektor beserta jajarannya, sivitas akademika Unpar, CAREDs Boards & CAREDs Committees, para tamu undangan dan sejumlah rekan CAREDs seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Resilient Development Initiative (RDI), Geopark Kaldera Toba, Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), Architecture Sans Frontiere – Indonesia, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Maranatha, LPPM UPI, dan lainnya.

Pusat Studi ini diinisiasi pada tanggal 16 November 2016 oleh 11 orang dosen Unpar dari berbagai disiplin Ilmu dan resmi berdiri dengan diterbitkannya pada 16 Januari 2017 lalu.

Dalam kata sambutannya, Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D, Ketua LPPM Unpar menyampaikan bahwa CAREDs adalah pusat studi yang diinisiasi oleh 11 inisiator yang merupakan program studi multidisiplin yang berada di bawah naungan LPPM Unpar.

“Dari LPPM sendiri kami mengharapkan dengan adanya tambahan pusat studi ini, akan semakin banyak penelitian dan kerjasama. Dan, terutama hal-hal yang akan semakin mengembangkan resiliensi dan adaptasi khususnya untuk lingkungan binaan di sekitar kita”, ujarnya.

Ketua CAREDs, Dr. Y. Karyadi Kusliansjah, IAI mengatakan bahwa pada hari peluncuran ini, ia dan tim ingin memperkenalkan CAREDs ke masyarakat. “Hari ini, kami menyatakan diri ke masyarakat. Peresmiannya di gedung ini, dalam hal mengenalkan (CAREDs) kepada kalangan (masyarakat), baik di internal Unpar sendiri”, ucapnya.

“Melalui kendaraan CAREDs ini, kami ingin memberikan pelayanan kepada masyarakat. Itu harapannya”, tambah beliau.

Pada kesempatan yang sama, Dr. Pele Widjaja, IAI, Kepala Divisi Product Development memperkenalkan tentang CAREDs itu sendiri. Dalam pemaparannya, ia menyebutkan jantung kegiatan CAREDs mencakup penelitian, pengembangan rancangan, dan pengembangan produk yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu pendidikan, pengabdian kepada masyarakat serta link & match dunia usaha dan industri.

Rektor Unpar Mangadar Situmorang, Ph.D., memaparkan bahwa ada tiga alasan dalam upaya mendukung pendirian pusat studi ini. Alasan pertama secara spiritual ideologis, ujarnya, Unpar mengemban visi menjadi komunitas akademik humanum yang mengembangkan potensi lokal ke tataran internasional serta bertujuan untuk meningkatkan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan. Alasan kedua, yaitu secara institusional. Unpar sebagai institusi pendidikan memiliki banyak potensi, baik yang aktual maupun yang masih dalam konteks potensial.

“Banyak dosen yang punya banyak keahlian dengan expertise masing-masing. Dan, kita juga punya resources yang cukup mendukung untuk pendirian dan seluruh kegiatan centre ini. Di samping tentu saja peluang kolaborasi dengan berbagai pihak”, tambahnya.

Alasan ketiga, secara aktual. Masyarakat Indonesia khususnya, tinggal di tempat yang sangat terbuka, ucapnya, sangat potensial menghadapi berbagai macam bencana serta persoalan lingkungan, baik itu fisik, sosial, ekonomi, dan juga politik.

“CAREDs juga menjadi bagian bagi pengembangan (visi & misi) universitas. Tentu saja, kita berharap, akan banyak lagi pihak-pihak yang berkolaborasi dengan centre ini”, pungkas beliau dalam kata sambutannya.

Adapun, rangkaian acara meliputi perkenalan CAREDs, peresmian oleh Rektor Unpar, penandatanganan MoU dan MoA kerjasama dengan sejumlah mitra CAREDs yang diorganisir oleh Kantor Internasional dan Kerjasama (KIK) Unpar, dan simposium dengan tema besar “Rekayasa Lingkungan dan Resiliensi Komunitas Berbasis Mitigasi Bencana Guna Menghadapi Situasi Kebencanaan di Indonesia”.

Sejumlah pemateri simposium di antaranya Dr. Imam Sadisun (Geologi ITB) dengan topik “Situasi Geologi dan Kerawanan Bencana di Indonesia”; Bapak Hermawan A. (BNPB) dengan topik “Situasi Kebencanaan di Indonesia”; Ibu Yasmina W. (RDI) dengan topik “Resiliensi Komunitas terhadap Bencana”; Bapak Wilman E.S (Geopark Kaldera Toba), dan Prof. Paulus Pramono Rahardjo (Teknik Sipil Unpar), salah seorang inisiator CAREDs yang membawakan topik mengenai “Rekayasa Lingkungan Berbasis Mitigasi Bencana”.

CAREDs didirikan sebagai wujud kepedulian Unpar terhadap bencana yang terjadi di Indonesia. Secara nyata, Unpar ingin turut berpartisipasi dalam melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat guna mengantisipasi bencana di masa yang akan datang.

]]>
CAREDs, “Resilient Today, Sustaining Tomorrow” https://careds.unpar.ac.id/careds-resilient-sustaining-tomorrow/ Tue, 16 May 2017 03:01:37 +0000 http://unpar.ac.id/?p=13154 Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di dalam zona  cincin api (Ring of Fire) dan pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif dunia sehingga negara ini rawan beragam bencana alam, seperti gempa, letusan gunung berapi, angin puting beliung, hujan ekstrim, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Tidak hanya ancaman bencana alam, tetapi juga bencana non alam seperti kebakaran hutan dan lahan, konflik sosial, maupun kegagalan teknologi.Resilient, careds

Menanggapi kondisi tersebut, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) mendirikan Pusat Studi Adaptasi dan Resilliensi Desain Lingkungan atau lebih dikenal dengan nama CAREDs (Centre for Adaptation & Resilience Environmental Design Studies). Pusat Studi ini diinisiasi pada 16 November 2016 oleh 11 orang dosen Unpar dari berbagai disiplin ilmu dan resmi berdiri dengan diterbitkannya S.K. Rektor Unpar No. III/PRT/2017-01/008 pada 16 Januari 2017.

Secara umum, struktur organisasi dan kepengurusan CAREDs terdiri atas CAREDs Boards, CAREDs Committee, dan Unit-Unit Pelaksana Teknis (UPT). Saat ini, Ketua CAREDs dipimpin oleh Dr. Y. Karyadi Kusliansjah, IAI yang juga merupakan dosen Prodi Arsitektur Unpar.

Adapun, CAREDs Boards terdiri atas Anggota Dewan Internal Unpar dan dapat ditambah oleh para Person In Charge dari mitra yang bekerja sama dalam kegiatan tertentu dan bersifat temporer sesuai dengan kerja sama kegiatan. Dewan bertanggung jawab untuk memberikan arahan-arahan strategis pengembangan, mengawasi kinerja, prestasi kerja, dan penggunaan anggaran serta membantu menciptakan peluang-peluang kegiatan dan kerja sama pusat studi.

Sementara itu, CAREDs Committee bertanggung jawab terhadap seluruh teknis dan terlaksananya seluruh pekerjaan pusat studi. UPT adalah unit-unit adhoc yang dibentuk berdasarkan keperluan untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan studi tertentu yang sifatnya khusus, kompleksitasnya tinggi dan/atau melibatkan kerjasama multi instansi. Saat ini, CAREDs sudah membentuk dua UPT, yaitu UPT Geopark dan UPT Emergency/Temporary Evacuation Shelter.

CAREDs memiliki empat divisi yaitu Divisi Research & Design Development; Product Development, Community Service; dan Information Technology & Networking. Secara bidang kajian, CAREDs memiliki empat bidang cluster research yaitu disaster resilience, social-ecological transformation for community resilience, built-environmental design resilience, dan ecotourism resilience.

CAREDs juga memiliki perhatian khusus untuk mengedukasi masyarakat dan mengadvokasi sektor pemerintahan agar dapat memiliki kesiapan dalam mengantisipasi dan menanggulangi bencana. Dalam implementasi serta pengembangan program kegiatannya, CAREDs meyakini pentingnya menjalankan program kemitraan dengan pihak-pihak eksternal.

Adapun, mitra kerja sama CAREDs, antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB); Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat; Fakultas Teknik dan Ilmu Kebumian ITB; Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI); Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat; Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha, Lembaga Penelitian Lingkungan dan Mitigasi Bencana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Batur UNESCO Global Geopark Bali; Geopark Kaldera Toba Sumatera Utara; Resilience Development Initiative (RDI); dan Architecture Sans FrontiereIndonesia.

Setiap mitra CAREDs memiliki kompetensi dan reputasi yang tidak diragukan lagi. Misalnya dengan RDI, mereka sudah kuat dengan community resilience-nya dan jaringan kerja sama internasionalnya sudah sangat mumpuni. “Oleh karena itu, CAREDs bekerjasama dengan RDI terutama terkait dengan lingkup community resilience tersebut”, ujar Dr. Pele Widjaja, IAI., salah satu insiator sekaligus Kepala Divisi Product Development CAREDs.

Kehadiran CAREDs merupakan salah satu pengejewantahan visi Great Unpar untuk menggapai cita-cita sebagai research-based university melalui pengembangan potensi lokal menjadi unggulan pada tataran internasional, demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan dalam sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.” Diharapkan, kiprah dan kerja nyata CAREDs dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat serta bangsa dan negara Indonesia.

 

Sumber: KOMPAS – Griya Ilmu (Selasa, 16 Mei 2017)

]]>